JULO Salurkan Rp28 T Pembiayaan Berbasis Risk-Based Pricing
JULO Salurkan Rp28 T Pembiayaan Berbasis Risk-Based Pricing
PT JULO Teknologi Finansial (JULO) mencatat telah menyalurkan lebih dari Rp28 triliun pembiayaan kepada lebih dari 3,3 juta pengguna yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia. Dana tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan produktif, mulai dari modal usaha, pendidikan, kesehatan, renovasi rumah, hingga kebutuhan rumah tangga.
Pencapaian ini menunjukkan komitmen JULO dalam memperluas akses kredit digital bagi masyarakat Indonesia, termasuk segmen underbanked yang belum memiliki akses pembiayaan memadai melalui layanan keuangan konvensional.
Andalkan Risk-Based Pricing untuk Kredit yang Lebih Bertanggung Jawab
Di balik penyaluran pembiayaan tersebut, JULO mengembangkan sistem penilaian risiko secara mandiri yang dipadukan dengan pendekatan risk-based pricing. Sistem yang telah dikembangkan sejak 2016 ini memungkinkan perusahaan menawarkan biaya pinjaman mulai dari 0,1% per hari, dengan besaran yang disesuaikan berdasarkan profil risiko masing-masing pengguna.
Pendekatan tersebut bertujuan menghadirkan akses kredit yang lebih bertanggung jawab, berkelanjutan, sekaligus sesuai dengan kemampuan finansial setiap pengguna.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap tata kelola industri fintech lending, Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait, Ahli Hukum Persaingan Usaha, menilai bahwa industri yang masih berkembang memerlukan pendekatan berupa pemberian pedoman, pembinaan kepatuhan, serta langkah preventif guna menciptakan kepastian hukum. Menurutnya, setiap kebijakan perlu dinilai berdasarkan konteks regulasi dan peran regulator dalam melakukan pengawasan.
Komitmen JULO Hadirkan Kredit Digital yang Adil
Sebagai penyelenggara fintech lending yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), JULO menempatkan kepatuhan terhadap regulasi dan kepentingan pengguna sebagai fondasi utama dalam menghadirkan layanan kredit digital.
"Di JULO, risk-based pricing menjadi fondasi untuk memperluas akses kredit kepada jutaan masyarakat Indonesia secara bertanggung jawab. Sistem penilaian risiko mandiri inilah yang memungkinkan kami menekan rentang biaya hingga mulai dari 0,1% per hari, jauh di bawah batas atas regulasi, sehingga secara harga kami kompetitif dengan platform lain dan pada saat yang bersamaan nasabah mendapatkan fasilitas yang adil," ujar Harri Suhendra, Presiden Direktur JULO.
Pembiayaan untuk Modal Usaha dan Pendidikan
Pendekatan tersebut turut dirasakan para pengguna JULO. Salah satunya adalah Arifa S., yang telah menggunakan layanan JULO selama hampir lima tahun untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak sekaligus mengembangkan usaha rumahan.
"Saya pakai JULO untuk kebutuhan sekolah anak, juga untuk jualan pulsa dan makanan dari rumah. Karena bunganya rendah, jadi keuntungan saya dari usaha masih sangat bisa menutup biaya pinjamannya. Karena itu saya pakai terus, sampai sekarang konsisten bunganya rendah dan pinjamannya cepat cair," ungkap Arifa.
Hingga saat ini, dari total penyaluran pembiayaan lebih dari Rp28 triliun, sekitar Rp6,3 triliun dimanfaatkan sebagai tambahan modal usaha, sedangkan Rp1,89 triliun digunakan untuk membiayai kebutuhan pendidikan masyarakat.
Limit Kredit Hingga Rp50 Juta
JULO menawarkan limit kredit hingga Rp50 juta dengan tenor fleksibel sampai 12 bulan. Melalui sistem penilaian risiko yang dikembangkan secara mandiri, perusahaan dapat memberikan penawaran kredit yang disesuaikan dengan profil masing-masing pengguna.
Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya JULO dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperluas inklusi keuangan di Indonesia melalui layanan kredit digital yang aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
Komentar